Saatnya berlaku ramah kepada orang lain

Posted by Renungan Harian Kristen Online on Rabu, 06 Juli 2016

berlaku ramah
Saatnya berlaku ramah kepada orang lain - Sikap ramah dan penuh hormat adalah expresi dari karakter Kristus didalam diri seorang percaya. Saya tidak sedang berbicara tentang temperamen seseorang, sebab kita tahu bahwa masing-masing kita lahir dengan temperamen yang berbeda-beda, jadi jangan disalah mengertikan bahwa sikap ramah tidak hanya dapat dilakukan oleh seorang melankolik yang umumnya perasa, sensitif perasaannya, lembut tutur katanya... atau bagi seorang yang ber temperament choleric, tidak akan pernah bisa berlaku ramah kepada orang lain, benarkah demikian? Jelas tidak seperti itu, sebab Firman Tuhan ini berlaku bagi semua kita, dan jika Tuhan memberikan perintah , tidak mungkin hal itu tidak dapat dilakukan oleh orang percaya, kuncinya adalah jangan hanya fokus kepada kepentingan mu sendiri - jangan egois.

Sekali lagi, berlaku ramah seorang terhadap yang lain adalah suatu keputusan, dan keputusan tersebut bisa dilakukan apabila kita bersedia untuk masing-masing kita menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri dan memperhatikan juga kepentingan orang lain. Beberapa waktu lalu ketika saya berada dalam MRT ( kereta cepat), saya duduk dengan beberapa teman, tiba-tiba masuk seorang ibu dengan beberapa tas belanjaan, tanpa berpikir dua kali, saya langsung berdiri dan memberikan bangku saya kepada sang ibu penumpang tsb... Ibu yang belum terlalu tua tersebut mencoba mecegah saya untuk berdiri tapi saya tetap berdiri, kemudian ibu tersebut duduk dan mengucapkan terima kasih... Lalu dia tambahkan kata-kata ini: 'it's been quite a while since someone treated me kindly... Sudah cukup lama terakhir kalinya saya diperlakukan dengan ramah...'

Ada seorang anak kecil penjual apel di stasiun kereta api, tiap-tiap hari dia pergi ke stasiun kereta untuk menjajakan apel  dagangannya. Anak kecil berusia 10 tahun tersebut telah mengambil alih tanggung jawab papanya yang meninggal 2 tahun lalu sebagai 'bread winner-tulang punggung rumah tangganya'. Anak tersebut mengambil apel dari supplier, menjajakannya dan mengambil membayar yang berhasil dia jual...Satu ketika, saat kereta api sedikit terlambat , dan kereta tersebut akhirnya berhenti di central stasiun kereta, semua penumpang terburu-buru dan saling mendorong untuk keluar, tanpa sengaja anak kecil itu pun turut terdorong da semua apel-apel dagannganya terbalik dan berceceran dijalan, dengan secepat kilat dan sekuat tenaga, anak itu pun berusaha menyelamatkan apel-apel itu, namun seagian besar tidak terselamatkan, ada yang tercecer jauh dan hilang, ada yang terinjak-injak para penumpang , dan ada yang jatuh ke selokan yang berdekatan dengan anak tsb. Tanpa disadari, air mata kesedihan membasuhi wajah anak kecil yang putus asa itu, entah apa yang dia pikirkan, mungkin dia berpikir mamanya tidak akan makan apa apa malam ini...atau adiknya yang masih bayi tidak bisa minum susu...

Tiba-tiba datang seorang anak muda dan menolong mengumpulkan apel-apel yang masih bisa diselamatkan, lalu mengeluarkan dompetnya dan berkata: 'berapa harga apel-apel yang tidak berhasil saya selamatkan?'. Setelah membayar semua harganya, orang muda itu pergi... namun sang anak kecil tersebut mengejar anak muda itu tadi dan bertanya: 'tuan... Apakah tuan Tuhan Yesus?' Sebab waktu saya disekolah minggu, guru saya selalu berkata 'Tuhan Yesus itu ramah...' Saudaraku berlaku ramah itu tidak terlalu mahal, kadang sekedar berdiri memberi tempat untuk orang lain... kadang sekedar menyapa orang di gereja... kadang memuji orang lain dan mengundang mereka datang untuk makan malam atau makan siang bersama saudara. Bukankah itu yang berkali-kali Yesus lakukan? Melihat yang lapar, Dia tidak tinggal daim, melihat yang susah, Dia mengulurkan tangan, melihat yang menangis, Dia menangis bersama mereka.. Bersediakah engkau menjadi suratan terbuka yang menyaksikan kasih Kristus melalui hidupmu? mulailah dengan berlaku ramah.

Ada satu perkataan Ibu Teresa yang mencuplik perkataan Yesus dan sangat penuh makna : "Didalam akhir hidup kita, kita tidak akan dihakimi dengan seberapa banyak gelar yang kita miliki, atau seberapa banyak uang yang telah kita kumpulkan, atau seberapa banyak perkara besar yang telah kita lakukan. Kita akan di hakimi dengan "Ketika aku lapar, apakah kamu memberi Aku makanan? Ketika Aku telanjang, apakah kamu memberi Aku pakaian? Ketika Aku tidak punya rumah, apakah kamu memberi aku tumpangan?" Sungguh benar kesederhanaan ini, dunia tidak akan mengenal Kristus sekedar melalui Kebaktian Kebangunan Rohani besar besaran... atau doa semalam suntuk tanpa berbuat apa-apa. Mulailah keluar dari kenyamanaan yang kita bangun untuk  diri sendiri, mulailah berlaku ramah kepada yang lain, terutama kepada mereka yang tidak berhak menerima keramahan atau yang terlantarkan, demi kemuliaan Tuhan, berlaku ramah lah kepada orang lain.

Blog, Updated at: 01.35

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.